jump to navigation

Ball Valve resistant to H2S and CO2 October 19, 2009

Posted by nzafee in DUNIA MIGAS.
trackback

Rangkuman Diskusi dari Migas Indonesia

Tanya – Adityawan Kridarso

Rekan2 Migas,

Saya sedang mencari reference untuk product Ball Valve yang tahan terhadap kandungan H2S dan CO2 yang tinggi didalam crude oilnya. Mungkin ada rekan2 yang mempunyai pengalaman dalam pemilihan atau merekomend suatu brand yang telah teruji kemampuan valve tersebut. Terima kasih atas pencerahannya.

Tanggapan 1 – Teddy

Mas Aditya,

Mungkin sebagai tambahan informasi, brand apapun yang dipakai, seyogyanya sebagai syarat minimal adalah dipenuhinya requirement NACE MR 01-75. Biasanya kekerasan maksimum yang dijinkan adalah Rockwell 22 atau Vickers 248.

Tanggapan 2 – Arief Rahman Thanura

Setahu saya kalau untu H2S, ball valve yang dipakai harus comply (certified) to NACE MR-01-75. Hampir sebagian besar produk ball valve sudah certify, jadi tinggal spesifikasi anda yang harus menyertakan bahwa si Ball Valve comply deng

Tanggapan 3 – Sabar B. Manurung

Informasi nya mengenai penggunaan Ball Valve sudah di ponis atau masih bisa di tukar. Informasinya terlampau terbatas, sehingga sulit untuk memberikan referensi. Kalau bisa saya tanya , kenapa Pak Aditya langsung mengambil kesimpulan untuk ambil Bal valve, apakah ini untuk Shut Down.

Tanggapan 4 – Adityawan Kridarso

Rekan2 Migas,

Terima kasih untuk responsenya perlu saya tambahkan info disini bahwa jenis valve yang akan dipakai adalah Ball Valve yang fungsinya sbg shutdown, untuk pemilihan valvenya apa harus dipakai jenis Stainless Steel Valve untuk body, ball maupun seatnya bagaimana kalau Bodynya dari Carbon Steel and Ball and Seatnya dari Stainless Steel atau hanya SS coated. Karena pertimbangan cost. Mohon pencerahannya lagi ya. Thx.

Tanggapan 5 – Ade Irfan

Mas Adityawan kridarso, semoga jawaban ini cukup membantu,

Kalo memang yang dibutuhkan adalah bener ball valve dengan chemical resistent available dengan H2S dan CO2, asal product apply dengan NACE MR-01-75 maka product tersebut sudah memenuhi persyaratan, silakan dipakai.

Hanya kalo ball valve tersebut dipergunakan dengan fungsi sekedar flow on-off maka sebaiknya dipertimbangkan penggunaannya, karena lebih kepada alasan efektifitas, terkecuali penggunaannya juga sebagai pressure regulator.

Tanggapan 6 – Arief Rahman Thanura

NACE MR-01-75 banyak menjelaskan requirement berkaitan dengan Sulfide Cracking ini. Paragraph 3.2.1, misalnya : “All carbon and low alloy steel are acceptable at 22HRC maximum hardness provided they (1) contain less than 1% nickel, (2) meet the criteria …. (3) are used in one of the following heat treat condition : (a) hot-rolled (carbon steel only); (b)annealed …”.

Jadi, tetap saya sarankan anda baca standard tersebut. Semoga membantu.

Tanggapan 7 – Darmawan Achmad

Dear Alles,

Huhuhuhu, Mas Arief geleng geleng kepala (sambil ngelamunin makan tahu petis nanti sore, huhuhu), daripada binun binun (minjem istilah ABG) sudahlah pakai aja SS. Doi cerita kalau dulu sempet ngerjain desainnya Qatar Gas dan begitu baca aturan NACE, si Qatar Gasnya minta sekalian semuanya dari SS, Mungkin dipikir pikir dari pada susah menuhin kriteria yang NACE tekankan. Jika hitung hitungannya adalah cost, bukankah dengan menggunakan Valve yang tidak compatible justru akan membebani cost dikemudian hari?? Mungkin sebaiknya Mas Adit baca baca konsep “Life Cycle Cost” yang banyak diulas oleh barringer. Ketik Barringer di google.com, hmm berhamburanlah konsep reliability dan life cycle cost. Konsep life cycle cost ini adalah konsep menghitung hitung nilai suatu barang tidak hanya dari nilai sekarang (yang cenderung diambil oleh yang punya duit) tapi juga kegunaan, lama usianya dan cost buat recovery nantinya. AHH SUDAHlah kalau saya berpanjang lebar disini nanti dikomplai oleh Begawan Reliability yakni Mas Ahmad Taufik PhD. Huhuhuhu. Semoga pembelian valvenya lancer.

Tanggapan 8 – Ade Irfan

Kalo ditanya mana yang kemudian dipilih then using benchmark “cost” tentu sulit, gini saja :

Sebagai seorang engineer tentu dipilih ball valve dengan body, ball, dan seat stainless steel karena lebih banyak manfaat, lebih panjang lifetime, lebih mudah operating. Nah sebagai seorang pebisnis tentu berpikiran dengan harga murah, ball dan seat stainless steel sedangkan body menggunakan carbon steel.

Kalo ditanyakan ke saya, maka yang terpenting adalah spesifikasi dari fluida yaitu H2S dan CO2, semakin korosif maka stainless steel yang tepat, kira-kira berapa spesifikasi dari fluida tersebut ?, susah untuk menentukan material yang dipakai sebab data yang diberikan sangat terbatas. Sebenernya mas adityawan bisa menghitung sendiri berapa ambang batas yang diperboleh kan menggunakan carbon steel, dari fungsi operating time, flow, dan chemical composition.

Tentunya yang dituntut adalah rasionalitas dan sense of engineering. Selamat menghitung🙂.

http://www.migas-indonesia.com

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: