jump to navigation

Incident di salah satu KPS saat commisioning (?) October 19, 2009

Posted by nzafee in DUNIA MIGAS.
trackback

Pembahasan – Darmawan Ahmad

Baru aja nyampe di Kalimantan ada berita (berita ini harus dikonfirmasi) yang kurang menggembirakan dari sebuah KPS di Indonesia. Mereka mengalami musibah yakni incident yang mengakibatkan sebuah vessel (atau tangki ? perlu dikonfirmasi!) berisi water mengalami kerusakan (meleleh (Ultimate tensile Stressnya terlampaui)atau rupture atau ? perlu dikonfirmasi!) akibat paparan panas karena kesalahan desain dari Flare Header sehingga paparan panas akibat radiasi (exposure panas) dari flare stack menerpa Platform yang terdekat. Untung saja yang terkena paparan adalah vessel (atau tangki?) yang berisi water, wah ngga kebayang tuh kalau tangki (atau vessel) yang kena berisi hidrokarbon) waw Bummmm!!!

Sebagai konsekuensi dari musibah ini KPS tersebut memecat (atau memulangkan dengan pesangon besar? he he he perlu dikonfirmasi!) seorang consultant engineer berinisial MW dari negeri paman sam. Engineer ini dipulangkan (perlu dikonfirmasi) karena memang dia yang bertanggung jawab dalam desain Flare header buat Platform tersebut.

Busyet, udah gaji gede bikin kesalahan gede pula… tentu saja jika berita ini dikonfirmasi KPS bersangkutan… hayooo ngaku… kirim aja incident report resmi…. he he he ditunggu nih.

Nilai Nilai yang bisa sebagai pelajaran dari kasus ini:

1) Facility Siting and Lay Out perlu direncanakan dengan matang dengan mempertimbangkan segala Hazard yang ada baik itu hazard karena Pressure atau Temperature (API 14E, 14C, 14J dan seri 14 lainnya; CCPS-AIChE 2003, dst)

2) Pelaksanaan desain haruslah mengacu pada Engineering Desain yang Inherently Safer atau setidaknya benar benar melibatkan unsur unsur Process Safety yang sangat koheren (CCPS AIChE 1993, CCPS-AIChE 1996, Kletz (banyak) dst)

3) Melaksanakan prinsip prinsip PHA jika memang desain sudah semaksimal mungkin telah “dianggap” inherently safer( EPA dan OSHA)

4) Incident Report, belum ada sebuah lembaga di Indonesia yang memiliki hak untuk melakukan incident report sehingga bisa diambil manfaat/pelajaran dari kasus ini (merujuk pada CSHIB, dulu CSB)

5) Tidak semua bule atau consultant engineer dari luar itu jagoan, malah pada saat setelah perang vietnam selesai, sempat ada istilah “engineer alumni vietnam” karena memang pada dasarnya mereka tidak capable sebagai engineer tapi dipaksakan (alasan politis atau ekonomis kurang tahu) untuk bekerja di Indonesia. Jadi musti ada seleksi lebih ketat lagi terhadap kapabilitas, kredibilitas dan akuntabilitas engineer expatriat. (aturan tenaga kerja)

6) Tidak ada nya standar standar desain di dalam negeri (SNI ? hayo bikin dunk) tentang pressure relief dan effluent handling yang “transendent” sehingga terkadang “dengan terpaksa” mengadopsi API atau BS atau yang lainnya yang “mungkin saja” tidak cocok di Indonesia (sebagai contoh kasus, Norwegia mulai memakai standar dalam negeri mereka sendiri sejak tahun 1991 sebelumnya mereka mengadopsi standar standar inggris dan API, dan hebatnya jumlah kecelakaan/incident menurun drastis semenjak saat itu, from Loss Prev Proc Ind).

Tanggapan 1 – Cahyo Hardo

Pertanyaan nya adalah, bagaimana sistem QA/QC engineering yang ada?

Apakah operasionalnya sudah benar?

Apakah kejadian ini baru saja terjadi atau sudah berulang (tetapi belum menimbulkan efek yang membahayakan)dan tidak dilaporkan?

Adakah perubahan struktur organisasi di KPS tersebut? dst…

Pertanyaan di atas, sebenarnya hanyalah contoh belaka. Banyak pertanyaan lain yang dapat “menyingkap” the root cause dan bukan hanya immediate cause.

Terkadang, dalam accident investigation, kita cenderung menuju ke immediate cause….padahal root cause-nya lah yang lebih penting. Dan menurut DNV, setiap loss, berarti telah terjadi management failure……

Dan kita tahu kan siapa itu yang disebut management.

Tanggapan 2 – Indra Prasetyo

Kalo ‘gak salah di Flare Gas System Pocket Handbook ada acuan utk menentukan intensitas dan jarak radiasi panas serta jarak/batas teraman (safe boundary) dari sebuah flare stack. API-nya juga kalo saya nggak salah ada ya??

Satu hal, saya setuju bahwa expat engineer tidak selamanya lebih jago dari local engineer. Beberapa dari mereka, memang harus kita akui memiliki kemampuan ‘lebih’ sehingga banyak kemajuan-2x di bidang iptek dan di bidang-2x lainnya yg mereka ciptakan, tapi itupun menurut saya karena mereka didukung oleh pemerintahnya dan didukung pula oleh kemampuan finansial yg kuat. Saya yakin kita pun memiliki banyak ilmuwan yg tidak kalah kualitasnya dari mereka, hanya sayang dukungan dari pemerintah terutama dukungan finansial utk melakukan penelitian dan pengembangan (R&D) mungkin kurang memadai.

Sisanya, orang ‘bule’ juga belajar, sama seperti kita, dan apa yg mereka pelajari juga bisa kita pelajari. Belajar disini artinya bukan cuma belajar di sekolah tapi termasuk belajar di ‘lapangan’ (experiences). Dan itu artinya, bias aja orang ‘kita’ lebih jago daripada orang ‘bule’, kenapa tidak? tapi sayangnya (lagi) masih ada aja orang ‘kita’ yg berpandangan kalo orang ‘bule’ itu pasti lebih jago daripada orang ‘kita’. Teman saya pernah cerita, ada ‘bule’ di tempat dia kerja yg kalo dipulangin ke negara asalnya paling cuman jadi supir truck, tapi disini bisa jadi manager. Mungkin teman saya terlalu sinis, tapi dia ingin mengungkapkan betapa tidak capable-nya si orang ‘bule’ tsb. namun perusahaan tempatnya bekerja memaksakan atau merasa perlu utk menempatkan orang ‘bule’ disitu. Tapi mungkin juga perush. itu betul, soalnya kata teman saya lagi, orang ‘bule’ bisa menaikkan nilai jual, kalo ada orang ‘bule’-nya, orang ‘kita’ gampang percaya atau gampang diyakinkan kalo produk keluaran perush. tsb pasti bagus, didukung oleh tenaga ahli dari luar katanya.

Faktanya, ya itulah ‘mindset’ dari sebagian orang ‘kita’ (yg perlu dirubah).

Tanggapan 3 – Darmawan Ahmad

Betul Cahyo,

Ketika sudah ada investigation, yah baru dimulai mencari root cause dan contributing cause nya. yah, syukur syukur kita kita kebocoran/dapat lesson learningnya. Semua masih simpang siur, seperti saya cantumkan di email saya sebelumnya, masih perlu dikonfirmasi, siapa tahu memang kejadian tidak separah kabar yang saya terima.

http://www.migas-indonesia.com

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: